PENGARUH TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP KEMATIAN IBU MELAHIRKAN

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Salah satu faktor tingginya AKI di Indonesia adalah disebabkan karena relatif masih rendahnya cakupan pertolongan oleh tenaga kesehatan. Departemen Kesehatan menetapkan target 90 persen persalinan ditolong oleh tenaga medis pada tahun 2010. Perbandingan dengan hasil survei survey Badan Pusat Statistik pada tahun 2009, persentase persalinan menggunakan jasa tenaga kesehatan (dokter, bidan, dan tenaga medis) sebanyak 77 %, yang kurang lebih 22% sisanya masih menggunakan jasa non tenaga kesehatan, seperti dukun.

Salah satu penyebab kematian ibu secara tidak langsung adalah terlambat mengenali tanda bahaya karena tidak mengetahui kehamilannya dalam risiko yang cukup tinggi, terlambat mencapai fasilitas untuk persalinan, dan terlambat untuk mendapatkan pelayanan. Termasuk kurangnya akses ibu bersalin terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, yang disebabkan penyebaran tempat pelayanan kesehatan yang belum optimal. Kualitas dan efektivitas pelayanan kesehatan ibu belum memadai, sistem rujukan kesehatan maternal belum mantap, dan lemahnya manajemen kesehatan di berbagai tingkat.

Pentingnya sarana dan prasarana termasuk tenaga medis yang memadai dapat mengurangi tingkat kematian ibu hamil ketika melahirkan. Dengan memadainya sarana dan prasarana kesehatan, ibu hamil dapat mengakses fasilitas yang tersedia dansesuai dengan prosedur kesehatan yang semestinya sehingga resiko-resiko yang dapat menyebabkan kematian dapat dihindari.

Akan tetapi, jika dikaitkan dengan kenyataan yang tengah berlangsung maka dapat dinyatakan sebenarnya pertolongan persalinan yang diberikan oleh petugas kesehatan terlatih terutama bidan belum merata, banyak bidan-bidan yang pengetahuan akan kesehatan ibu hamil dan ibu bersalin masih kurang sehingga pelayanan kesehatan yang diberikan tidak dapat berjalan total.  Tidak semua bidan dan petugas kesehatan lain dapat dikategorikan ahli dalam menjalankan perannya yang bersifat formal dan bertujuan sosial. Ketidaksediaan petugas KIA menetap tinggal di desa dan jarang berkunjung ke dusun-dusun dalam rangka penyelenggaraan kegiatan Posyandu menjadi kendala dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi kebutuhan-kebutuhan ibu melahirkan (Suhari dan Ngalimun, 2000).

Kalaupun sudah terdapat jasa pelayanan kesehatan bagi ibu melahirkan, seperti bidan yang telah terlatih, jumlahnya tidak memadai dengan jumlah penduduk yang ada dan luas geografis yang cukup jauh. Sehingga tidak semua penduduk mendapatkan pelayanan kesehatan yang pada akhirnya mereka lebih suka berobat ke dukun beranak (pijat).

Masih tingginya angka persalinan oleh dukun disebabkan oleh kurangnya pengetahuan ibu tentang bahaya akibat dari pertolongan persalinan yang tidak adekuat. Perilaku ini dipengaruhi oleh faktor pokok yaitu faktor perilaku maupun non perilaku, sedangkan perilaku kesehatan ditentukan oleh tiga faktor yaitu faktor predisposisi yang terwujud dalam pengetahuan sikap, keyakinan, nilai-nilai, faktor pendukung yang terwujud dalam lingkungan fisik, sarana/prasarana dan ketentuan-ketentuan. Perilaku ini menyangkut respon terhadap fasilitas pelayanan, petugas kesehatan dan obat-obatnya, yang terwujud dalam persepsi, pengetahuan, sikap, dan penggunaan fasilitas petugas kesehatan (Lider, 2007).

Meskipun pengetahuan ibu ikut berperan dalam kematian ibu melahirkan, tetapi pada kenyataannya banyak ibu yang telah memiliki pengetahuan yang cukup akan pelayanan kesehatan, tetapi nyatanya pemanfaatannya masih kurang. Oleh karena itu, perlu dilakukannya sosialisasi kesehatan lebih lanjut kepada masyarakat.Selain kurang memadainya jasa pelayanan kesehatan bagi  ibu bersalin, sulitnya transportasi dan alat komunikasi, seperti saluran telepon, dan lokasi mukim yang berjauhan dengan tempat tersedianya pelayanan kesehatan, menjadi penyebab seringnya keterlambatan antisipasi pertolongan pertama oleh tenaga medis.

Terlebih dari itu, kesulitan perlengkapan persalinan dan sarana untuk analisis laboratorium yang tersedia sangat terbatas untuk melayani para wanita yang mengalami gangguan kesehatan reproduksi terutama pada masa kehamilan dan melahirkan. Oleh karenanya sedikit banyak ada kasus-kasus yang tidak dapat dilayani oleh petugas kesehatan setempat jika membutuhkan tenaga yang lebih ahli (spesialis kandungan dan kebidanan) atau perlengkapan medis lainnya. Biasanya tindakan yang mereka berikan adalah dengan membuat rujukan untuk dapat dirawat lebih ke rumah sakit yang fasilitasnya lebih lengkap dan disesuaikan dengan kondisi ekonomi pasien (Suhari dan  Ngalimun, 2000).

Ketersediaan informasi, baik penyuluhan maupun konseling juga penting diberikan agar ibu-ibu mengetahui bahaya yang dapat terjadi dalam kehamilan, persalinan, dan masa nifas, serta upaya menghindari masalah itu.

Beberapa kebijakan pemerintah yang dibuat antara lain :

  1. Penempatan bidan di desa dan dikembangkannya sistem Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS – KIA).
  2. Upaya Safe Motherhood, yaitu pelayanan Keluarga Berencana, pelayanan antenatal, persalinan yang bersih dan aman, dan pelayanan obstetri esensial.
  3. Gerakan Nasional Kehamilan yang Aman (Making Pregnancy Safer).
  4. Meluncurkan Jaminan Persalinan (Jampersal). Tujuannya untuk meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan; meningkatkan cakupan pelayanan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan; meningkatkan cakupan pelayanan KB pasca persalinan; meningkatkan cakupan penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir; serta terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif, transparan, dan akuntabel. ditujukan kepada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas (pasca melahirkan sampai 42 hari) dan bayi baru lahir (0-28 hari) yang belum memiliki jaminan biaya kesehatan.
  5. Program Kemitraan Bidan Dukun. Suatu bentuk kerjasama bidan dan dukun yang saling menguntungkan dengan prinsip keterbukaan, kesetaraan dan kepercayaan dalam upaya untuk menyelamatkan ibu dan bayi, dengan menempatkan bidan sebagai penolong persalinan dan mengalihfungsikan dukun dari penolong persalinan menjadi mitra dalam merawat ibu dan bayi pada masa nifas, dengan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat antara bidan dan dukun serta melibatkan seluruh unsur/elemen masyarakat yang ada.
  6. Meluncurkan layanan gratis untuk ibu hamil
Daftar Pustaka

BPS. 2009. Indikator kesehatan 1995 – 2009. http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=30&notab=33 diakses tanggal 15 April 2011.

Depkes RI. 2010. Kemitraan Bidan Dukun. http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=56:kemitraan-bidan-dukun&catid=3:kemitraan-bidan-dukun&Itemid=68 diakses tanggal 12 April 2011.

Kemenkes Luncurkan Layanan Gratis untuk Ibu Hamil

http://www.trijayafmplg.net/berita/2011/03/kemenkes-luncurkan-layanan-gratis-untuk-ibu-hamil/

Suhari M. Yahya and H. Ngalimun. 2000 . STUDI TENTANG PROFESIONALISME SISTEM PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) DAN INOVATIF DALAM RANGKA MENCEGAH TINGKAT KEMATIAN IBU PADA FASE HAMIL DAN BERSALIN. Purwokerto.

Umar, lider. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PELAYANAN KESEHATAN DENGAN PEMANFAATANNYA DALAM BERSALIN DI DESA TERBANGGI ILIR KECAMATAN BANDAR MATARAM LAMPUNG TENGAH TAHUN 2007. Jurnal Kesehatan “Metro Sai Wawai” Volume II Edisi Juni 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s